Home / Kesehatan / TANTANGAN DAN STRATEGI MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 UNTUK OPERASIONAL KANTOR CABANG PERBANKAN 5/5 (2)

TANTANGAN DAN STRATEGI MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 UNTUK OPERASIONAL KANTOR CABANG PERBANKAN

Oleh Yan Indrayana, SE, MM.

 

Tahun 2020 dapat dikatakan tahun yang berat bagi semua kalangan baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Mengutip pakar ekonomi Rizal Ramli (media Warta Ekonomi.co.id tgl 9 Maret 2020),  memprediksi wabah virus corona (Covid-19) yang mengguncang dunia bisa memicu krisis ekonomi di Indonesia, jika tak segera reda beberapa bulan ke depan.

Pertumbuhan kredit di Indonesia di angka 4%, merosot dari tahun 2019 lalu 6,02 % yang biasanya, pertumbuhan kredit bisa bertengger di angka 15-18 persen pada tahun tahun sebelumnya, Trend perdagangan bursa IHSG mengalami penurunan oleh adanya aksi jual investor asing dan lokal yang jatuh dibawah 4.200 dan Kembali di posisi 5.635 pada 17 April 2020.

 

Pelemahan rupiah terhadap dollar juga terjadi dimana pada tgl 23 Maret 2020 sempat menyentuh diangka Rp.16.575,- dan bertahan di Rp.16.305,- sampai tgl 26 Maret 2020 dan berakhir diposisi Rp.15.503 per tanggal 17 April 2020, padahal kurs terendah di tahun 2020 ada di Rp.13.612,- di tgl 27 Jan 2020.

Efek pandemi virus corona (covid-19) memperparah kondisi siklus ekonomi, masyarakat sempat mengalami panic buying terhadap produk tertentu (masker, disinfektan, handsanitizer dst) serta arus supply barang terutama yang berasal dari barang2 impor mulai langka harga mulai bergeser naik dan daya beli yang menurun sehingga penjualan anjlok.

Perilaku masyarakat cenderung berubah, yaitu menarik dana simpanan rupiahnya di perbankan dan menjual saham untuk keperluan sbb :

  • Di simpan dirumah untuk jaga-jaga
  • Dibelanjakan untuk barang-2 keperluan sehari-hari./ stok persediaan untuk penjualan dalam rangka persiapan bulan Ramadhan
  • Mengalihkan ke simpanannya ke Dollar dan Emas Logam Mulia untuk keperluan spekulasi danatau investasi

Mindset masyarakat untuk bertransaksi cashless semakin familiar di dorong gencarnya sosialisasi dari masing masing provider dan customer service perbankan tentang benefit transaksi cashless dalam rangka menghindari terkena penularan virus Corona karena medianya bisa melalui uang fisik.

Transaksi belanja online  (e-Commerce, Go Food, Grab Food atau pembelian barang dengan system Delivery Service) diproyeksikan menjadi primadona, begitupun transaksi via channel e-wallet (OVO, Gopay, LinkAja dst), diprediksi akan meningkat drastis, sementara untuk kebutuhan transaksi perbankan dilaksanakan melalui mobile banking, internet banking atau e-banking lainnya..   

Efek pandemi covid-19, juga disinyalir akan menyebabkan roda ekonomi akan menurun, arus barang dan jasa akan terhenti, iklim investasi dan proyek-proyek besar juga sejenak akan terhenti pula dan iklim berusaha menurun serta dikhawatirkan terjadinya gejolak kredit macet jika pelaku pelaku ekonomi dari UMKM dst dibiayai permodalannya dari fasilitas kredit.

Dengan kondisi tersebut, Presiden RI Bpk.Joko Widodo pada tanggal 24 Maret 2020 mengambil langkah kebijakan relaksasi bagi para pengusaha kecil yang mengambil kredit/pembiayaan dari Lembaga leasing maupun bank untuk menunda pembayaran cicilan / angsuran kredit selama 1 tahun kedepan.

Atas himbauan Presiden RI dimaksud,  Otoritas Jasa Keuangan telah mengeluarkan Peraturan OJK (POJK) No. 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional. Salah satu isinya memberikan perlakuan khusus kepada debitur yang mengalami kesulitan pembayaran utang ke bank karena terdampak wabah corona.

Menurut keterangan OJK, debitur yang dimaksud juga termasuk pelaku UMKM yang terdampak penyebaran COVID-19 baik secara langsung maupun tidak langsung. Adapun sektornya antara lain pariwisata, transportasi, perhotelan, perdagangan, pengolahan, pertanian, dan pertambangan.

Dalam POJK ini jelas diatur bahwa pada prinsipnya bank dapat melakukan restrukturisasi untuk seluruh kredit atau pembiayaan kepada seluruh debitur, termasuk debitur UMKM. Sepanjang debitur-debitur tersebut teridentifikasi terdampak COVID-19. Pemberian perlakuan khusus tersebut tanpa melihat batasan plafon kredit/pembiayaan.

Untuk mekanismenya, setiap utang atau pembiayaan direstrukturisasi oleh bank atau perusahaan pembiayaan dapat ditetapkan lancar apabila diberikan kepada debitur yang teridentifikasi terkena dampak penyebaran COVID-19.

Restrukturisasi kredit/pembiayaan dilakukan mengacu pada POJK mengenai penilaian kualitas aset, antara lain dengan cara:

  1. Penurunan suku bunga
  2. Perpanjangan jangka waktu
  3. Pengurangan tunggakan pokok
  4. Pengurangan tunggakan bunga
  5. Penambahan fasilitas kredit/pembiayaan
  6. Konversi kredit/pembiayaan menjadi Penyertaan Modal Sementara.

Berbagai skema tersebut diatas diserahkan sepenuhnya kepada bank dan sangat tergantung pada hasil identifikasi bank atas kinerja keuangan debitur ataupun penilaian atas prospek usaha dan kapasitas membayar debitur yang terdampak COVID-19. Jangka waktu restrukturisasi juga sangat bervariasi tergantung pada assessment bank terhadap debiturnya dengan jangka waktu maksimal 1 tahun.

Tentu nya kondisi diatas akan secara langsung dirasakan dampaknya oleh perbankan secara nasional. Bayang bayang tentang meningkatnya kredit bermasalah akibat meningkatnya potensi gagal bayar debitur atas kondisi tersebut, penarikan atau pengalihan sementara dana simpanan ke uang dollar fisik dserta logam mulia ataupun dibelanjakan untuk keperluan pembelian barang/stok persediaan menghantui pencapaian target penghimpunan dana pihak ketiga.

Ekspansi kredit pun akan lebih hati hati dan perbankan cenderung memilih untuk mempertahankan kualitas / perbaikan kreditnya karena hal ini akan berdampak terhadap target bottom line (laba perusahaan) terlebih dengan di implementasikannya system PSAK 71 / IFRS-9 yang mengacu pada pendekatan Expected Credit Loss (ECL) yang beban provisionnya lebih besar sekitar 20-33% dari PSAK 55.

Bagaimana perbankan menghadapi di era pandemi Covid-19 agar survive untuk kinerja, maka ada beberapa hal yang perlu untuk diantisipasi ditingkat operasional kantor Cabang Perbankan yaitu sbb :

  1. Diyakini bahwa merujuk kejadian krisis tahun 1998 dan tahun 2008, maka krisis  2020 akibat pandemi covid 2019 pasti akan bertemu dengan titik akhir.
  2. Respon terhadap dampak pandemic Covid-19 yang terjadi hanya ada dua sisi,seperti pepatah China yaitu Wei(a time of danger) & Ji (a time of opportunity) yaitu :
  3. Dari sisi Wei(a time of danger), biasanya lebih dominan melihat dari kacamata sesuatu yang membahayakan dan cenderung akan panik serta serba ketakutan dalam mengadapi kondisi dimaksud, ini biasanya terjadi pada orang-orang Proffesional.
  4. Dari sisi Ji(a time of opportunity) terdapat 2 sisi yang dilihat yaitu how to survive on Covid-19 (bagaimana cara bertahan saat kondisi pandemi covid-19 yang sedang berlangsung sebagai contoh melakukan efisiensi pos pos pengeluaran dan mengoptimalkan pos pos pendapatan dan penjualan produk yang masih dapat dikembangkan) dan yang paling penting adalah preparing post Covid-19 (setelah kondisi berakhirnya pandemi covid-19) maka Kantor Cabang/perusahaan anda akan lebih siap untuk lifting dalam pencapaian kinerja .
  5. Setiap kejadian krisis baik yang terjadi pada tahun 1998 dan tahun 2008 selalu diikuti oleh evolusi atau perubahan perilaku baik dari sisi Customermaupun Competitor, dan tidak tertutup kemungkinan pada konndisi pandemic covid-2020 yang menyeret ke krisis ekonomi ini sedikitnya akan men-trigger  adanya evolusi / perubahan perilaku baik dari  Competitor dan Customer.

Maka oleh karena itu, mulai saat ini mumpung waktu lebih longgar, manfaatkan untuk belajar, berfikir serta merencanakan dikala Work From Home (WFH), untuk mengamati fenomena Change (Perubahan) dilingkungan anda yaitu :

  1. Mengamati perubahan Teknologi yang berkembang yang dapat mendorong perubahan terhadap Socio-Cultural di masyarakat (seperti sosialisasi penggunaan transaksi cashless transaction atau e-channel perbankan sehingga masyarakat ada pergeseran mindset benefit penggunnaan teknologi)
  2. Mengamati perubahan akbiat adanya kebijakan pemerintah baik pemerintah pusat / daerah (political-legal) yang dapat mempengaruhi potensi perubahan arus barang dan jasa yang menjadi menjadi push factor perubahan Socio-Cultural dan economy dilingkungan masing masing.
  3. Mengamati perubahan kondisi market di daerah masing masing apakah ada perubahan di industri, trend market share dst.

Setelah melakukan pengamatan atas perubahan / change diatas, maka lakukan penilaian atas Threat dan Opprtunity bagi unit kantor Cabang dan lakukan stress test serta mitigasi risiko nya berdasarkan simulasi optimis, moderat dan pesimis. Laksanakan pengukuran stretch possibilities yaitu alokasikanlah  all your controllable resource yang dimiliki berdasarkan penilaian Strength dan Weaknesess, untuk diarahkan secara focus terhadap apa yang ingin dicapai saat post covid-19.

Yang terpenting dalam melakukan aktivitas diatas, jangan panik dan nikmati prosesnya, serta selalu berfikir how to survive dahulu untuk mempertahankan kinerja Kantor Cabang.

Yang berikutnya aspek leadership yang harus kuat, karena kualitas leadership akan terlihat jika seorang leader sedang diuji menghadapi kondisi yang tidak menentu (uncertain). Leadership yang baik harus menyeimbangkan 4 kemampuan kecerdasan yaitu  Physical Quotient,Inteleqtual Quotient, Emotional Quotient dan Spiritual Quotient yang dimiliki.

  • Aspek Physical, anda dan tim nya agar menjaga kesehatan secara fisik, dan di musin pademi covid-19, aktivitas kebugaran tubuh / olah raga serta asupan nutrisi, vitamin serta makanan yang menambah imunitas tubuh agar ditingkatkan.
  • Aspek Intelektual yang selalu berfikir logic, rasional tetap dijalankan, dan ini diperlukan bagi seorang leader yang hebat.
  • Aspek Emotional Quotient juga perlu dipelihara, dimana dalam implementasinya menggabungkan atara kecerdasan social dengan kecerdasan emosional. Khusus untuk kecerdasan emosional, anda tetap harus terjaga emosiionalnya, jangan cepat terpancing dalam kepanikan dalam menghadapi masalah pandemic covid-19 ini, sementara untuk aspek kecerdasan social, pemanfaatan sarana teknologi komunikasi, medsos dst masih dapat dilaksanakan walau tidak bertemu secara fisik.
  • Aspek Spiritual Quotient, ini merupakan kecerdasan secara personal (hubungan horizontal antar manusia) dan kecerdasan secara moral ability (hubungan vertical yaitu hubungan dengan sang Maha Pencipta nya), ini harus seimbang.

Sehingga dalam kondisi saat pandemic covid-19 berlangsung, seorang leader secara komprehensif tetap focus, logic, berfikir kritis, sense of business yang digunakan untuk tetap survive dan merencanakan akselerasi pencapaian kinerja saat post covid-19.

Secara tekhnis bahwa terdapat  4   hal  agar target bottom line (Operating Profit)  tetap terjaga sebagai berikut :

  1. Khusus kredit
  • Ekspansi yang berkualitas pada sektor sektor usaha yang memiliki risiko terkecil di wilayah kerjanya dan diupayakan bidik 10 pemain dominan pada sektor unggulan di daerah masing-masing namun lebih diutamakan untuk penyelesaian permasalahan kredit yang masuk Loan at Risk serta menangani para debitur yang berpotensi jatuh yang terdampak kondisi pandemi covid-19, dan hal ini harus gerak cepat secara simultan dan agar dibentuk tim task force.
  • Bekerjasama dengan pihak-2 Asuransi kredit untuk penutupan asuransi kredit non program secara case by case terhadap debitur yang berada pada sektor yang memiliki risiko tinggi.
  • Lakukan stress test kondisi debitur atas dampak pandemic covid-19, ukur dan mitigasi resikonya dengan 3 model, model optimis, model moderat dan model  pesimis untuk menghasilkan proyeksi kualitas, proyeksi posisi sebagai gambaran kinerja lending, kualitas kredit, pendapatan bunga (interest income) dan beban CKPN yang dibentuk sesuai bobot yang telah di tetapkan dalam PSAK 71.
  • Komposisi penyaluran kredit kedepan agar diatur antara kredit dengan skim Rekening Koran, RC On Top dan Aflopend baik kredit produktif dan konsumer mengingat nilai bobot CKPN yang akan terbentuk berbeda.

 

  1. Sudah saatnya untuk meningkatkan porsi pendapatan non kredit dhi. fee baseserta pendapatkan pool fund yaitu melalui :
  • Meningkatkan produktifitas akuisisi new account / rekening baru yang berbayar baik melalui akuisisi payroll, walk in customer serta cross selling petugas yang digalakan.
  • Memasarkan produk simpanandan membuat program khusus baik secara lokal/regional/nasional khususnya untuk penghimpunan dana pihak ketiga berbiaya murah (CASA) yang optimal
  • Melakukan upgrading produk tabungan / kartu nasabah 1 tingkat lebih tinggi berdasarkan fasilitas layanan yang lebih baik dengan harapan memperoleh pendapatan yang lebih tinggi
  • Mengoptimalkan pemasaran keagenan serta edukasi terhadap agen terkait operasionalisasi agen, benefit serta peluang bisnis transaksi keagenan, sekaaligus unntuk memperluas jaringan bagi nasabah/masyarakat yang akan bertransaksi.
  • Hindari pemasaran dana mahal serta dana CASA rasa deposito, ini pilihan sulit antara mempertahankan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga atau menurunkan posisi Dana pihak Ketiga dengan mengeluarkan dana  biaya mahal namun memperingan beban perusahaan namun tetap mempertahankan kondisi laba operasional kantor cabang. Kantor Cabang juga harus berani untuk menlakukan edukasi dengan menonjolkan benefit kepada nasabah sekaligus memfilter mana nasabah yang profitable dan mana yang tidak profitable.
  1. Meningatkan gerakan Internal monitoring melaalui pencanangan program peduli efisiensi pengeluaran untuk seluruh pegawai diseluruh unit operasional.

 

  1. Untuk Marketing Funding agar menjaga profitable customer anda dan kurangi hard selling karena para nasabah besar khususnya institusi/pengusaha juga sedang mengalami permasalahan bisnis pada konsisi saat ini. Dan disarankan lebih banyak edukasi dan memberikan solusi solusi atas transaksi keuangannya.

 

  1. Program peningkatan Kualitas Layanan :
  • Canangkan program peningkatan loyalitas dan customer experience di masing masing kantor Cabang yaitu berupa kampanye retensi pelanggan yang merupakan kunci sukses dalam kondisi situasi krisis.

Menurut pendekatan program ini, customer service ataupun tenaga pemasaran yang mampu memberikan solusi yang terbaik bagi nasabahnya melalui kualitas layanan yang baik, maka customer eksisting yang puas akan melakukan advocate serta mereferralkan rekan usahanya untuk mempermudah akuisisi new customer dan akan membantu kinerja business cabang

  • Jadikan fasilitas transaksi Digital di multichannel perbankan anda  bagaikan menjadi taman bermain bagi customer tentunya meningkatkan pengalaman serta pemanfaatan multi transaction pada fasilitas yang disediakan pada menu-menu mobile banking / internet banking.
  • Canangkan Gerakan pembukaan rekening tabungan berjangka untuk semua pegawai disetiap outlet yang mengedepankan benefit bagi customer, dimana kantor cabang akan memperoleh keuntungan dari sutainability growth untuk CASA.

 

Jadi kunci dari tantangan menghadapi krisis yang mengakibatkan kondisi uncertaintly saat ini bergantung kepada how to respon positively, don’t panic dalam menghadapinya, melakukan analisis perubahan di pasar/perilaku competitor dan customer serta merencanakan hal hal yang harus dilakukan baik dari sisi preventif serta preparing strategy dalam kondisi post pandemic covid-19.

http://www.theiconomics.com/change-management/cara-sableng-untuk-hadapi-tantangan-covid-19/

 

Nilai Kualitas Konten

About IT SOFTWARE DEVELOPMENT

Check Also

Pelatihan PROFESIONAL AGILE LEADERSHIP 2020

Perusahaan yang sukses ber-transformasi memiliki Agility Business pemimpin yang memiliki leadership kuat dan memiliki visi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *